
Mencoba peruntungan Bapak Darma
mempercayakan nasib pada seekor ayam
Uangnya sedikit tapi pengen cepat banyak
Tak menambah uang, Pak Darma menambah hutang
Menang mungkin,
kalah sudah pasti
Nampaknya begitu tulis tangannya Pak Darma
Ibu Darmi kembali meringis
Pak Darma jadi bengis, Bu Darmi jadi sasaran
Di tengah semua derita
Ibu Darmi bertanya-tanya
Apa para dewa di sana
telah meninggalkan pulau Dewata?
Nosstres-Bu Darmi
Saya melihat video seorang anak kecil yang menangis karena ayahnya dikeroyok massa saat diduga ketahuan mencuri ayam di Buleleng, Bali. Video itu memperlihatkan anak kecil tersebut ditahan oleh para tetangga atau mungkin ibunya sendiri, karena ia ingin berlari mendekati ayahnya yang telah meninggal dunia akibat amuk massa. Video lain pun beredar, memperlihatkan bagaimana orang itu diamuk massa, lehernya ditali, lalu diseret.
Saya sangat sedih sekali melihat video ini, mengingat saya sendiri juga merupakan “yatim senior”. Namun dalam perspektif saya sebagai laki-laki yang ditinggalkan oleh ayah, saya tidak punya sudut pandang tentang apa yang sering dikatakan orang, bahwa ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Bagi saya, dan mungkin bagi laki-laki lain, ayah adalah hero pertama dalam hidup. Maka saya tidak sampai hati membayangkan betapa sedihnya orang yang kehilangan sosok yang menjadi cinta pertamanya. Tapi saya cukup bisa merasakan kesedihan di mata anak kecil tersebut, apalagi ini terjadi di Bali.
Tempat dimana tugas perempuan memang sangatlah berat. Sudah tersebar ke seluruh Indonesia Strereotype bahwa laki-laki Bali adalah laki-laki yang pekerja keras, padahal di sanalah perempuan yang harus menghidupi keluarga, yang harus mencari nafkah, yang harus berpanas-panasan mengaspal jalan, yang harus berpanas-panasan di terik matahari ketika menjadi kuli bangunan, yang harus berpanas-panasan dan berkeberatan membawa rinjing-rinjing untuk menjajakan dagangannya. Sementara laki-laki bermalas-malasan mengelus-elus ayam jagonya dan pergi ke palagan untuk mengadu jagonya dengan sesama laki-laki lain di sana. Seperti diketahui, di Bali memang perjudian ayam itu dilegalkan dan merupakan adat serta tradisi yang sudah hidup di Bali berpuluh-puluh tahun, mungkin beratus-ratus tahun lamanya.
Tapi dalam buku Bali Menggugat, para perempuan di Bali sebenarnya sekarang sudah mulai sadar akan hak-hak kemanusiaan yang setara, mulai menggugat para laki-laki yang hanya bermalas-malasan dan menjadikan judi sabung ayam ini sebagai alasan agar bisa bermalas-malasan dan tidak bekerja. Mereka mengatakan, ketika mereka berangkat judi sabung ayam, yang dipertaruhkan bukan hanya sekadar harta atau uang belaka, namun judi sabung ayam ini adalah simbol kejantanan laki-laki, yang membawa nama keluarga mereka, membawa nama anak istri mereka, bahkan membawa nama lingkungan adat mereka. Jadi ketika mereka kalah, maka reputasi itu akan hancur. Padahal pada dasarnya judi tidak akan pernah membuat pemainnya menang terus menerus, karena namanya juga berjudi. Tapi hal-hal demikian ini masih menjadi prinsip mereka untuk mendoktrin anak istri mereka.
Ditambah lagi, masih banyak perempuan-perempuan di Bali yang tidak mendapatkan hak pendidikan setinggi laki-laki lainnya, karena mereka berpikir, mengapa disekolahkan tinggi-tinggi kalau pada akhirnya juga akan diambil orang lain, atau diberikan pada istri orang lain. Ini juga merupakan masalah yang muncul, dan mungkin akan dihadapi anak tersebut. Sudahlah tidak disekolahkan, kemudian harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Dan perempuan-perempuan ini juga tidak dibagi warisannya. Sungguh miris ketika kita melihat realitas sosial yang ada di Bali ini, khususnya bagi perempuan-perempuan.
Maka saya tidak bisa membayangkan betapa sedihnya anak kecil itu ketika ditinggal oleh ayahnya, yang merupakan cinta pertama bagi seorang anak perempuan, dan ia akan tumbuh dewasa dengan menanggung beban-beban yang sedemikian beratnya untuk ditanggung sendiri. Maka saya ikut berduka cita, dan saya turut merasakan kehilangan yang diterima anak tersebut. Bahkan walau memang ayahnya adalah seorang residivis, karena pola budaya yang saya kemukakan tadi merupakan sesuatu yang memang sudah seharusnya ditinggalkan, wanita yang dijadikan sebagai tumpuan keluarga di kehidupan sehari-hari sedang suaminya malas-malasan mencari uang dan mengandalkan sabung ayam dengan dalih tradisi merupakan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan.
Chandra Hady Surya, Ponorogo 2026
