NAMAMU

NAMAMU

Aku menyebut namamu,
diseperempat senja, dikala hujan baru reda
aku mengingat namamu,
dipojok ruang setengah terbuka, tatkala gema adzan berkumandang-mengundang

sejenak,
barisan burung menengadahkan sayapnya ke langit,
berunding dengan tuhan, tentang cacing dari daerah mana yang akan dijadikan rezekinya esok hari,

akupun sama,
berunding dengan tuhan,
mendongakkan kepala sedikit ke langit dan berujar lirih,

“sebenarnya kau pertemukan kami untuk apa tuhan, kalau hanya untuk meregas pengahrapanku, mengapa kau limpahkan rasa cinta dihati hambamu ini”

  • Pos